Jumat, 27 Maret 2015

5 Faktor Keberhasilan Ekspansi Alexander Agung




Kemenangan Alexander Agung dalam invasinya untuk menguasai Anatolia, Perisa, Mesir dan bahkan India telah menjadi legenda selama berabad-abad. Kemenangan Alexander tersebut bukanlah sebuah proses yang mudah. 



Kampanye untuk membawa 40.000 orang dan menempuh jarak ribuan kilometer juga bukanlah sebuah perkara yang sepele. Berikut ini merupakan beberapa faktor yang menyebabkan kemenangan Alexander Agung dapat direalisasikan:


1. Formasi Pasukan

Formasi pasukan Phalanx adalah salah satu formasi pasukan paling baik di jaman kuno. Hoplite adalah jenis pasukan yang dikembangkan di Yunani dan di kemudian hari menginspirasi berbagai bentuk pasukan lain seperti Romawi, Kartago atau bahkan Pasukan Salib di kemudian hari. Hoplite adalah pasukan bertombak, dengan jubah baja lengkap dan perisai kuat terdiri dari lapisan kayu dan baja. Pasukan semacam ini lambat geraknya, karena beratnya baju baja yang harus mereka bawa. Namun kekuatan bertahan dan daya serang mereka sungguh luar biasa.





Formasi pasukan phalanx dibuat pada dalam kolom-kolom yang terdiri dari 64- 256 orang. Kolom-kolom ini bekerja secara pararel dengan pasukan kavaleri untuk menghancurkan formasi pasukan musuh.

Pasukan Phalanx merupakan pasukan yang paling mutakhir pada jamannya. Pasukan ini dilengkapi dengan Sarissa, tombak sepanjang 6m (18 kaki) yang mempunyai mata ujung ganda (depan dan belakang). Jubah baja mereka yang disebut Hoplite terdiri dari perisai, helm, jubah (untuk melindungi dada dan perut), greaves (pelindung kaki), pedang, tombak dan tunik. Berat total peralatan ini adalah lebih dari 30 kg (75 pound).




2. Kontinuitas Suplai Logistik

Pasukan Alexander harus menempuh jarak ribuan kilometer dalam setiap penaklukannya. Seluruh penaklukan ini dilakukan dengan berjalan kaki. Artinya, mereka membutuhkan banyak sekali asupan makanan guna menjaga tenaga dari seluruh tentara, hal ini agak sedikit berbeda dengan penklukan Mongol yang misalnya menggunakan kuda sebagai kekuatan utama. Yang menarik adalah, hampir 70 persen pergerakan pasukan Alexander adalah dekat dengan air. Entah itu laut ataupun sungai.




Pergerakan angkutan logistik ini bukannya tanpa alasan, ia menggunakan kapal untuk menjaga ketersediaan suplai logistik untuk pasukannya. Kapal mempunyai daya angkut yang lebih besar dan lebih fleksibel dibandingkan dengan kereta kuda atau sejenisnya. Kapal juga tidak begitu membutuhkan banyak energi untuk menyokongnya. Barangkali bahkan tidak ada sama sekali ketika angin siap membuatnya berlayar jauh. Penggangkutan logistik semacam ini merupakan terobosan besar di dalam pengembangan teknologi militer.




3. Kedisiplinan


Pasukan Yunani yang dipimpin Alexander adalah pasukan yang paling disiplin di dunia pada masanya. Mereka dilatih sejak usia remaja atau bahkan usia dini untuk masuk dalam (mungkin) semacam dinas ketentaraan di masa sekarang. Sedangkan musuhnya, Persia, sedikit berbeda. Mereka merekrut pasukan dari budak atau daerah taklukan. Terkadang mereka sama sekali tidak mempunyai pengalaman militer sama sekali karena pekerjaan mereka yang sesungguhnya hanyalah petani atau buruh. Hanya sebagian kecil saja pasukan yang mempunyai kualitas baik. Salah satunya adalah immortal, pasukan pengawal kaisar.

Kedisiplinan pasukan semacam ini menjadi faktor penting dalam sebuah kampanye panjang. Kedisiplinan memperkecil tingkat desersi dan pembelotan pasukan. Tingkat kerahasian perjalanan pasukanpun terjaga sehingga manuver pasukan tidak dapat atau hanya kecil sekali terpantau oleh musuh.



4. Teknologi


Pasukan Alexander menggunakan teknologi untuk menaklukan daerah-daerah yang dilewatinya. Beberapa diantara alat-alat teknologi tersebut antara lain Menara Demetrius Poliorcertes. Sebuah menara yang digunakan untuk mendaki tembok pertahanan kota.

Gastraphetes dan Ballista juga telah digunakan untuk melakukan pengepungan terhadap kota-kota musuh. Gastraphetes merupakan crossbow yang mempunyai ukuran lebih besar. Sedangkan balista lebih mirip seperti panah yang berbentuk seperti meriam. Teknologi pengepunggan kota semacam ini tentu saja sangat berpengaruh untuk merebut kota-kota Persia di sekitar laut mediterania yang biasanya dilindungi oleh tembok yang tinggi.

Namun dari seluruh teknologi yang digunakan, tidak ada yang lebih mutakhir dari Hoplite atau kelengkapan pasukan Phalanx itu sendiri. Mengingat peperangan dengan pengepungan kota hanya sesekali saja terjadi. Sebagian besar peperangan terjadi di tanah lapang Asia yang luas. Dan di dalam peperangan jenis semacam ini ternyata pasukanPhalanx yang dilengkapi dengan Hoplite ternyata terbukti lebih efektif dibandingkankan dengan pasukan Persia yang sebagian besar tidak dilengkapi baju baja memadahi. Meskipun jumlah pasukan Persia jauh lebih besar dibandingkan Alexander.




5. Visi dan Misi


Alexander mungkin merupakan salah satu pemimpin perang yang paling unik sepanjang sejarah. Ia mempunyai visi untuk menyatukan seluruh daerah kekuasaannya menjadi sebuah kekaisaran yang plural. Kalau perlu perbedaan etnis ditiadakan dengan cara mencampur seluruh suku dan bangsa taklukannya. Salah satu usaha yang digunakan adalah dengan mendorong pasukannya sendiri untuk menikah dengan penduduk setempat. Alexander sendiri juga melakukan hal yang sama dengan menikahi Roxane dari Bachtria. Ia juga menikahi beberapa wanita bangsawan dari Persia.

Pluralisme ini membut Alexander disambut secara baik di daerah-daerah taklukannya. Ia bahkan mendapat sebutan di daerah tertentu seperti Iskandar di Mesir dan Arab, serta Syikander di Mesopotamia. Alexander dianggap sebagai seorang raja pembebas daripada seorang penakluk.






sumber: https://aninditablog.wordpress.com/2012/07/13/faktor-kemenangan-alexander-agung-atas-penaklukannya-di-asia/
.

Daftar Isi